Kesalahpahaman Penis

Suatu istilah yang secara luas telah disetujui yaitu “phallic fallacy” adalah suatu konsep yang beranggapan bahwa penis yang lebih besar pada seorang laki-laki lebih efektif dalam hubungan sexual. Ukuran alat kelamin laki-laki baik dalam keadaan flaccid maupun dalam keadaan erectio,dianggap oleh masyarakat mempunyai refleksi secara langsung terhadap kejantanan seorang laki-laki.Dickinson adalah orang yang pertama kali melaporkan ukuran-ukuran penis dengan derajat objektivitasnya.Ia menyokong pendapat Loeb bahwa panjang rata-rata penis bervariasi antara 8,5 cm -10,5 cm dalam keadaan flacccid dengan rata-rata 9,5 cm.
Suatu anggapan yang salah yang mengatakan bahwa ukuran penis berhubungan dengan kemampuan sexual seseorang,didasarkan pula pada kesalahan konsepsi tentang penis.Dianggap bahwa penis yang lebih besar dalam keadaan flaccid memiliki penambahan yang lebih besar untuk tercapainya erectio penuh dibandingkan dengan penis yang lebih kecil.Anggapan ini ditolak oleh sekelompok kecil peneliti yang mengadakan evaluasi klinik pada orang-orang percobaan.Sebanyak 40 orang percobaan yang mempunyai panjang penis antara 7,5 cm -9 cm,dibandingkan dengan 40 orang percobaan yang mempunyai panjang rata-rata penis antara 10 cm -11,5 cm dalam keadaan flaccid.pengukuran ini merupakan cara pengukuran kasar yang paling baik dan hanya dapat dianggap sebagai suatu saran dan tidak merupakan suatu hal yang spesifik.
Penis yang lebih pendek bertambah panjang rata-rata 7,5 cm - 8 cm untuk mencapai erectio penuh (fase plateau) .Keadaan erectio penuh ini adalah dua kali panjangnya dari keadaan flaccid.
Berlawanan dengan hal tersebut diatas pada orang-orang yang mempunyai panjang penis rata-rata 10 cm – 11,5 cm,penambahan panjang rata-rata 7 cm – 7,5 cm.Pengukuran penis dalam keadaan erectio penuh ini adalah pengukuran klinis yang kasar yang nilainya masih bervariasi sekitar 0,5 cm.
Pengukuran dilakukan dari tepi anterior symphysis pubis pada basis penis sepanjang tepi dorsal sampai ujung glans penis. Pengukuranpenis pada waktu erectio tidak dilakukan sampai pada akhir fase plateau sempurna. Karena pembesaran yang sempurna terjadi dalam waktu yang pendek sebelum terjadinya ejakulasi, maka pengukuran pada keadaan ini dilakukan secara tergesa-gesa, sehingga hasilnya tak dapat dipercaya. Karena informasi yang didapat dengan cara-cara tersebut tidat didefinitif, maka sudah tentu tak didukung oleh data-data statistik tentang “phallic fallacy”.
Penambahan rata-rata antara penis yang lebih kecil dan penis yang lebih besar dalam keadaan flaccid tidak bermakna.
Dalam kenyataannya didapatkan, bahwa penis yang paling besar akan mengalami penambahan rata-rata 7,5 cm,dari keadaan flaccid ke erectio.Penambahan terkecil didapatkan pada penis yang panjangnya 11,5 cm dalam keadaan flaccid,dan waktu erectio penuh hanya bertambah 5 cm.
Menurut Piersol ukuran penis tak mempunyai hubungan yang konstan terhadap perkembangan tubuh pada umumnya. Pernyataan ini mendukung ‘phallic fallacy”.
Banyak kelompok masyarakat beranggapan bahwa seseorang yang memiliki tubuh yang lebih kekar akan memiliki penis yang lebih besar baik dalam keadaan flaccid maupun dalam keadaan erectio. Penelitian yang seksama yang dilakukan terhadap 312 orang percobaan dengan umur antara 21 tahun, ternyata mendukung pernyataan piersol, yang mendapatkan bahwa tak ada hubungan antara bentuk tubuh dengan ukuran alat kelamin luar pada seorang laki-laki.
Penis terbesar yang didapatkan pada orang percobaan panjangnya hampir 14 cm dalam keadaan flaccid pada seorang yang tingginya 5 feet 7 inchi dan berat badannya 152 ponds.
Penis terkecil didapatkan dalam keadaan flaccid hanya 6 cm,pada seorang yang tingginya 5 feet 11 inchi dan berat badannya 178 ponds.
Walaupun ada sedikit bukti yang menguatkan anggapan bahwa secara proporsional penis yang lebih besar dalam keadaan flaccid akan menjadi lebih besar pada waktu erectio,masih ada dugaaan secara teoritis bahwa orang yang mempunyai penis yang kecil punya kemampuan coitus yang lebih efektif.Bahkan penis yang lebih kecil (lebih kecil dari 9 cm) mempunyai kemampuan yang hampir sesuai dengan penis yang lebih besar (lebih besar dari 10 cm ).Faktor yang secara konstan yang dapat dilihat dalam perdebatan tentang efectivitas penis dalam melakukan coitus,adalah reaksi dari pada vagina yang tidak disadari dalam mengakomodasikan penis selama melakukan coitus.

(Sumber : N. Arthana)